jump to navigation

Wayangku, Kemana Engkau? Maret 27, 2008

Posted by octhora in Budaya, Nusantara.
Tags: , ,
1 comment so far

bima.gifBerbagai media saat ini seperti sudah melenyapkan wayang, sarana budaya yang sebetulnya sangat mencerahkan. Aduh, betapa mirisnya saya saat saya membicarakan wayang di sekolah, saya dinggap kuno, jadul, ketinggalan jaman, dsb. Sedangkan yang saya yakini bahwa wayang itu mengandung banyak sekali nasihat, petuah maupun filosofi yang sebenarnya bisa menuntun kita ke arah kehidupan yang lebih baik. Selain itu, wayang dan budaya pada umumnya merupakan identitas bangsa yang seharusnya dipertahankan sebagai warisan para pendahulu kita.

Mereka menciptakan wayang, tidak hanya sekadar sebagai hiburan, tapi justru lebih sebagai media dakwah untuk menyalurkan pemikiran dan filosofi mereka yang sarat dengan makna dan hakikat kehidupan, seperti Kanjeng Sunan Kalijaga yang dengan sangat hebat mau membuat wayang dengan berbagai macam lakon yang sarat makna seperti contohnya Wejangan Dewaruci, yang mengajarkan bagaimana manusia mencapai hakikat tertinggi hubungan dengan Sang Pencipta. Karena itulah, wayang sangat berarti, dan wajib untuk dipertahankan sebagai budaya dan identitas bangsa.

Dan Kalau bukan kita siapa lagi?

Ayo Ngeblog… Maret 26, 2008

Posted by octhora in Budaya, Octhora.
Tags:
1 comment so far

Percayakah anda bahwa dengan nge-blog, setiap orang bisa saja memberi manfaat pada banyak orang, selain kita bisa menuangkan berbagai gagasan maupun ide yang cemerlang, orang yang mengunjungi blog anda pun akan semakin bertambah wawasan dan ilmunya. Selain itu kita juga bisa saling berbagi dalam berbagai hal dalam blog, yang menajdikan hidup lebih HIDUP.

Berminat Nge-blog.. Ayo sebarkan budaya ngeblog dan miliki sendiri blog anda, dengan mengikuti tutorial membuat blog pada link berikut :

Klik di bawah:

Cara Membuat Blog

Kemana Kita Berjalan?(lanjutan) Maret 26, 2008

Posted by octhora in Budaya, Octhora, Spiritual.
Tags: , , ,
add a comment

Berpikir mengenai hidup, bahwa hidup sebenarnya buat kita bukan bagaimana kita menjalani hidup tapi bagaimana kita memaknainya. Terkadang orang jauh berjalan memikirkan, kemana jalannya untuk hidup, kemana dia bisa menggapai kesenangan, tapi justru terkadang orang itu mudah jatuh tertatih dan kehilangan arah. Berbeda dengan orang yang mau merenungi, me’rasa’kan dengan sepenuh jiwa daripada makna hidup yang dia jalani. Dia akan paham bahwa dia hidup memiliki asal dan tujuan. Dia tahu bahwa hiduplah yang akan mengalir membawanya menggapai puncak rasa jatinya sebagai manusia untuk menggapai sebenarnya cahaya kehidupan.

Para pujangga jawa pun sejak dulu telah banyak memberikan petuah dan nasihat tentang bagaimana untuk mengarungi kehidupan yang semu ini, seperti yang terekam apik dalam tembang-tembang macapat gubahan pemikir ulung Manusia Jawa. Mereka banyak memberi pengertian tentang apa dan bagaimana menggapai hakikat tertinggi, dan rahasia kehidupan manusia. Mereka juga banyak menyerukan pada para putra wayahnya untuk senantiasa merenung dan eling sebagai bentuk pengenalan diri pada Sang Pencipta. Misalnya seperti dalam gubahan tembang pangkur berikut yang dirangkai apik oleh Sri Mangkunegara IV. (lagi…)