Kembali dari yang Telah Hilang April 13, 2008
Posted by octhora in Octhora, Spiritual.Tags: Puisi Tercurah, Spiritual
add a comment
Mengapa hilang…
Mengapa menerawang…
Tak sadarkah manusia…
Tak pahamkah manusia…
Akan sejumput makna yang disampaikan padanya…
Akan cahaya yang coba diterpanya…
Adakah manusia meresapi…
Atau mereka terpaku pada kepongahan dan bersuka membanggakan diri..
Sibuk dengan apa yang menurutnya…
Senang dengan apa yang terlaku olehnya..
Merasa dirinya segalanya.. merasa jadi terbenarkan..
Jika demikian adanya.. Maka
Manusia bagaikan daun yang gugur sebelum waktunya…
Atau..
Bunga yang berupa bangkai..
Yang tiada harum dan indah menghiasi..
Hanya busuk yang merebak..
Atau..
Bagai langit dengan awan gelap yang bertindih..
Pekat.. Tiada terang menyinari…
Semoga kelak semua tersadarkan…
tebangun dari buai keinginan..
Nafsu buas tak terperikan..
Bangkit menjadi seorang Insan…
Yang Arif… Yang Terang..
Yang ternyana padanya Kebenaran nan sejati dan terselamatkan..
Tersibak…
Olehnya Cahaya Pramana Terang Nan Merebak…
Sinarnya meluruh menerangi jagad…
Kembali menjadi Sejati yang bersatu Wujud dan Rasa..
Dengan Sang Pangeran…
Terbukanya Tabir… Menghias Rupa penuh Sempurna
Maha… Segala-galanya…
Goresan Terindah dan Terlupakan dari Alam April 9, 2008
Posted by octhora in Alam, Nusantara.Tags: Alam, Octhora
21 comments
Alam telah banyak memberikan manfaat dan arti dalam kehidupan kita. Kita hidup dari apa yang disediakan oleh alam. Makan, minum dan kebutuhan lainnya, kita juga bergantung pada alam. Bahkan alam dengan pesonanya seringkali menjadi penyejuk jiwa atau pelipur daripada lara.
Ketika aku pergi, pulang ke kampung halamanku di desa, hamparan padi yang hijau menguning nan indah menjadi pesona pertama yang seakan gembira menyambut kedatanganku. Tak sampai di situ, barisan bukit dan gunung membiru seakan menghiasi sekelilingku, menambah indah panorama. Lalu, ketika aku pergi ke sebuah air terjun di daerah desaku, hatiku seakan di surga melihat pemandangan yang begitu indah. Percikan air yang tampak putih membias. Tumpahan air dari atas bukit, seakan bernyanyi, melagukan indahnya panorama, menambah indah dari hijaunya pepohonan, birunya langit dan juga senandung gemericik air sungai yang mengalir syahdu di bawahnya. Tak hanya sampai di situ, kicau burung yang seakan bersabda alam, ikut pula memberikan warna selain daripada kupu-kupu yang merona indah yang sedang memadu disebuah bunga merekah di pinggir sungai. Oh indahnya…
Tapi ketika aku melihat pelosok lain dari tanah airku, hatiku trenyuh melihat alam bersedih. Deru mesin gergaji, seakan jadi suara kematian yang menjatuhkan pepohonan dari kokohnya. Atau lalapan si setan merah yang merajalela melahap apapun yang ada di sekelilingnya. Atau juga di kota tempatku hidup sekarang, lahan hijau diubah menjadi gedung pencakar langit atau pemukiman para pendatang yang belum tentu bisa memberikan kontribusi pada pembangunan, dan hanya mementingkan dirinya sendiri.
Deru mesin kendaraan bermotor yang mengeluarkan gas beracun dari pembuangannya, menambah pedih derita alam yang sudah porak poranda dikotori manusia. Hingga akhirnya alam pun mengeluarkan peringatan akan bahaya kemarahannya, mencoba menyadarkan manusia dari kesombongan, kerakusan, dan kepongahannya. Kita tentu tak ingin alam yang meberi keidupan pada kita hilang begitu saja artinya. Hendaknya kita sadar, bangun dan benahi alam kita sekarang, sebagai wujud rasa syukur akan keagungan Tuhan Pencipta Alam. Kita bersatu dengan alam, membentuk keharmonisan, sehingga alam pun bersahabat dengan kita, memberikan cahaya, pembuka menuju awal kehidupan yang sejati.


