jump to navigation

Kemana Kita Berjalan?(lanjutan) Maret 26, 2008

Posted by octhora in Budaya, Octhora, Spiritual.
Tags: , , ,
trackback

Berpikir mengenai hidup, bahwa hidup sebenarnya buat kita bukan bagaimana kita menjalani hidup tapi bagaimana kita memaknainya. Terkadang orang jauh berjalan memikirkan, kemana jalannya untuk hidup, kemana dia bisa menggapai kesenangan, tapi justru terkadang orang itu mudah jatuh tertatih dan kehilangan arah. Berbeda dengan orang yang mau merenungi, me’rasa’kan dengan sepenuh jiwa daripada makna hidup yang dia jalani. Dia akan paham bahwa dia hidup memiliki asal dan tujuan. Dia tahu bahwa hiduplah yang akan mengalir membawanya menggapai puncak rasa jatinya sebagai manusia untuk menggapai sebenarnya cahaya kehidupan.

Para pujangga jawa pun sejak dulu telah banyak memberikan petuah dan nasihat tentang bagaimana untuk mengarungi kehidupan yang semu ini, seperti yang terekam apik dalam tembang-tembang macapat gubahan pemikir ulung Manusia Jawa. Mereka banyak memberi pengertian tentang apa dan bagaimana menggapai hakikat tertinggi, dan rahasia kehidupan manusia. Mereka juga banyak menyerukan pada para putra wayahnya untuk senantiasa merenung dan eling sebagai bentuk pengenalan diri pada Sang Pencipta. Misalnya seperti dalam gubahan tembang pangkur berikut yang dirangkai apik oleh Sri Mangkunegara IV.

TEMBANG PANGKUR

Mingkar mingkuring angkara
Akarana karenan mardi siwi

Sinawung resmining kidung

Sinuba sinukarta

Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung

Kang tumrap neng tanah Jawa

Agama ageming aji

Menghindarkan diri dari angkara
Bila akan mendidik putra

Dikemas dalam keindahan syair

Dihias agar tampak indah

Agar tujuan ilmu luhur ini tercapai

Kenyataannya, di tanah Jawa

Agama dianut raja

Jinejer neng Wedhatama
Mrih tan kemba kembenganing pambudi

Mangka nadyan tuwa pikun

Yen tan mikani rasa

Yekti sepi asepa lir sepah samun

Samangsane pakumpulan

Gonyak-ganyik nglilingsemi

Diuraikan dalam Wedhatama
Agar tidak mengendurkan budi daya

Pada hal meski tua renta

Bila tak memahami perasaan

Sama sekali tak berguna

Misalnya dalam pertemuan

Canggung memalukan

Nggugu karsane priyangga
Nora nganggo paparah lamung angling

Lumuh ingaran balilu

Uger guru aleman

Nanging janma ingkang wus waspadeng semu

Sinamun ing samudana

Sesadon ingadu manis

Menuruti keinginan pribadi
Bila berbicara tanpa dipikir lebih dahulu

Tak mau disebut bodoh

Asal dipuji dan disanjung

Tetapi manusia telah paham akan pertanda

Yang ditutupi dengan kepura-puraan

Ditampilkan dengan manis

Si pengung ora nglegewa
Sangsayarda denira cacariwis

Ngandhar-andhar angendhukur

Kandhane nora kaprah

Saya elok alangka longkanganipun

Si wasis waskitha ngalah

Ngalingi marang si pingging

Si bodoh tidak menyadari
Bicaranya semakin menjadi-jadi

Melantur-lantur semakin jauh

Ucapannya tidak masuk akal

Semakin aneh dan jauh dari kenyataan

Si pandai dan waspada mengalah

Menutupi kekurangan si bodoh

Mangkono ngelmu kang nyata
Sanyatane mung weh reseping ati

Bungah ingaran cubluk

Sukeng tyas yen den ina

Nora kaya si punggu anggung gumunggung

Agungan sadina-dina

Aja mangkono wong urip

Begitulah ilmu yang nyata
Sesungguhnya hanya memberi kesejukan

Bangga dikatakan bodoh

Senang hatinya bila dihina

Tidak seperti si bodoh yang besar kepala

Minta dipuji setiap hari

Orang hidup jangan begitulah

Uripe sapisan rusak
Nora mulur nalare ting saluwir

Kadi ta guwa kang sirung

Sinerang ing maruta

Gumarenggeng anggereng anggung gumrunggung

Pindha padhane si mudha

Prandene paksa kumaki

Hidupnya semakin rusak
Nalarnya tidak berkembang dancompang-camping

Seperti gua yang gelap

Diterpa angin badai

Menggeram, mengaung, gemuruh

Sama siperti si muda

Meski begitu ia tetap sombong

Kikisane mung sapala
Palayune ngendelken yayah-wibi

Bangkit tur bangsaning luhur

Lah iya ingkang rama

Balik sira sasrawungan bae durung

Mring atining tata krama

Ngon-anggo agama suci

Kemampuannya sangat kecil
Geraknya bergantung kepada ayah-ibu

Terpandang dan tingkat luhur

Itulah orang tuanya

Sedangkan belum mengenal

Artinya sopan-santun

Yang merupakan ajaran agama

Socaning jiwangganira
Jer katara lamun pocapan pasthi

Lumuh asor kudu unggul

Sumengah sosongaran

Yen mangkono kena ingaran katungkul

Karem ing reh kaprawiran

Nora enak iku kaki

Sifat-sifat dirimu
Tampak dalam tutur-bicara

Tak mau mengalah, harus selalu menang

Congkak penuh kesombongan

Sikap seperti itu salah

Gila kemenangan

Itu tak baik, anakku

Kekerane ngelmu karang
Kakarangan saking bangsaning gaib

Iku boreh paminipun

Tan rumasuk ing jasad

Amung aneng sajabaning daging kulup

Yen kapengkok pancabaya

Ubayane mbalenjani

Yang termasuk ilmu takhayul
Pesona yang berasal dari hal-hal gaib

Ibarat bedak

Tidak meresap ke dalam tubuh

Hanya ada berada di luar daging, anakku

Jika tertimpa mara bahaya

Pasti akan mengingkari

Marma ing sabisa-bisa
Babasane muriha tyas basuki

Puruita kang patut

Lan traping angganira

Ana uga angger-ugering keprabun

Abon-aboning panembah

Kang kambah ing siyang ratri

Maka sedapat mungkin
Usahakan berhati baik

Mengabdilah dengan baik

Sesuai dengan kemampuanmu

Juga tata-cara kenegaraan

Tata-cara berbakti

Yang berlaku sepanjang waktu

Iku kaki takokena
Marang para sarjana kang martapi

Mring tapaking tepa tulus

Kawawa naheb hawa

Wruhanira mungguh sanyataning ngelmu

Tan mesthi neng janma wredha

Tuwin muda sudra kaki

Bertanyalah anakku
Kepada para pendeta yang bertirakat

Kepada segala teladan yang baik

Mampu menahan hawa nafsu

Pengetahuanmu akan kenyataan ilmu

Tidak hanya terhadap orang tua-tua

Dan orang muda dan hina anakkku

Sapa ntuk wahyuning Allah
Gya dumilah mangulah ngelmu bangkit

Bangkit mikat reh mangukut

Kukutaning jiwangga

Yen mangkono kena sinebut wong sepuh

Liring sepuh sepi hawa

Awas roroning atunggal

Barangsiapa mendapat wahyu Tuhan
Akan cepat menguasai ilmu

Bangkit merebut kekuasaan

Atas kesempurnaan dirinya

Bila demikian, ia dapat disebut orang tua

Artinya sepi dari kemurkaan

Memahami dwi-tunggal

Tan samar pamoring sukma
Sinukmanya winahya ing ngasepi

Sinimpen telenging kalbu

Pambukaning wanara

Tarlen saking liyep layaping ngaluyup

Pindha sesating supena

Sumusiping rasa jati

Tidak bingung kepada perpaduan sukma
Diresapkan dan dihayati di kala sepi

Disimpan di dalam hati

Pembuka tirai itu

Tak lain antara sadar dan tidak

Bagai kilasan mimpi

Merakna rasa yang sejati

Sajatine kang mangkana
Wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi

Bali alaming asuwung

Tan karem karameyan

Ingkang sipat wisesa-winisesa wus

Milih mula-mulanira

Mulane wong anom sami
.

Sesungguhnya yang demikian itu
Telah mendapat anugerah Tuhan

Kembali ke alam kosong

Tak suka pada keramaian

Yang bersifat kuasa-menguasai

Telah memilih kembali ke asal

Demikianlah, anak muda

Begitulah bagaimana kita harus menyikapi kehidupan, kita harus senantiasa menggunakan prinsip hidup sangkan paraning dumadi, yang harus disadari dan dresapi betul oleh para putra wayahnya (kita) ini. Dengan kita mampu memahami hakikat kehidupan, sampai (makrifatulah, kasyaf, gambuh) pada Tuhan, kita akan lebih arif dan bijaksana dalam memahami dan menjalani kehidupan, tanpa ragu, bimbang ataupun bingung karena kita telah memiliki tujuan hidup hanya untuk dan kembali padaNya.

Jadi, mau kemana kita?

Komentar»

No comments yet — be the first.